Penemuan Planet JRG55 dalam narasi fiksi ilmiah ini bermula dari observasi teleskop ruang angkasa yang memantau bintang katai tipe K. Teleskop tersebut mendeteksi penurunan cahaya periodik yang konsisten, sebuah indikasi kuat adanya objek yang melintas di depan bintang induknya.
Fenomena penurunan cahaya ini dikenal sebagai metode transit. Dalam sains nyata, metode ini menjadi teknik paling efektif untuk menemukan eksoplanet. Pada kasus JRG55, data transit yang berulang mengarah pada kesimpulan bahwa sebuah planet berukuran besar sedang mengorbit bintang tersebut.
Kurva cahaya yang dihasilkan menunjukkan pola yang stabil dan presisi. Dari data ini, ilmuwan fiksi memperkirakan ukuran Planet JRG55 sekitar 1,8 kali diameter Bumi dengan periode orbit yang relatif pendek namun sedikit elips.
Saat Planet JRG55 melintas, sebagian cahaya bintang melewati atmosfernya. Analisis spektral menunjukkan indikasi nitrogen, gas karbon, serta kemungkinan uap air. Informasi ini menjadi dasar hipotesis tentang iklim dan fenomena ekstrem di planet tersebut.
Orbit elips JRG55 menyebabkan variasi suhu musiman yang ekstrem. Pada titik terdekat dengan bintang, badai magnetik dan aurora intens muncul, sementara pada jarak terjauh suhu menurun drastis.
Berdasarkan data observasi, simulasi tiga dimensi dikembangkan untuk memetakan permukaan Planet JRG55. Model ini memperlihatkan kombinasi lautan luas, daratan vulkanik, serta kemungkinan zona air cair yang menarik untuk dikaji.
Meski Planet JRG55 adalah konsep fiksi, seluruh proses penemuannya dirancang mengikuti metode astronomi modern. Pendekatan ini membuat kisah JRG55 terasa realistis dan edukatif bagi pembaca.